MANFAAT TEPUNG KEPALA UDANG DALAM PAKAN IKAN HIAS KOI

 

MANFAAT TEPUNG KEPALA UDANG DALAM PAKAN IKAN HIAS KOI

Penulis: Nina Meilisza dkk


        Ikan koi merupakan jenis ikan hias dari sekian banyak ikan hias yang sudah mampu dimasyarakatkan dan dikuasai teknologi budidayanya oleh masyarakat. Ikan hias koi sudah lama dikenal masyarakat karena bentuk yang bermacam-macam dan warnanya yang indah sehingga permintaan akan ikan hias ini semakin meningkat. Kualitas ikan hias akan menentukan nilai ekonomis dan estetiknya, tampilan warna yang indah merupakan salah satu indikator yang menjadi daya tarik. 

        Warna pada ikan disebabkan oleh adanya sel pigmen atau chromatophore yang terdapat dalam dermis pada sisik, di luar maupun di bawah sisik. Warna merah atau kuning merupakan warna yang banyak mendominasi ikan hias. Komponen utama pembentuk pigmen merah dan kuning ini adalah pigmen karotenoid. Pada ikan, karotenoid tidak dapat disintesis secara de novo (Goodwin, 1984; Kalinowski et al., 2007). Penambahan sumber peningkat warna dalam pakan ikan akan mengakibatkan adanya peningkatan pigmen warna pada tubuh ikan tersebut, minimal ikan mampu mempertahankan pigmen warna pada tubuhnya selama masa pemeliharaan. Keberadaan astaksantin adalah yang terbesar dan terserap pada hewan-hewan air seperti udang-udangan, krill, trout, atau salmon. 

    Tepung kepala udang merupakan salah satu jenis sumber karoten yang berasal dari hasil pengolahan limbah tubuh udang yang sudah tidak dimanfaatkan dan mengandung bahan-bahan seperti mineral, protein, khitin, dan karotenoid (Damuningrum, 2002). Bagian udang yang dimanfaatkan pada produk beku hanya berkisar 20-30% yang berupa daging utuh, sedangkan kulit, kepala dan kotoran lainnya dianggap sebagai limbah. Tingginya limbah dari industri udang beku ini perlu ditangani sebaik mungkin untuk mencegah timbulnya pencemaran lingkungan. 



        Pemanfaatan limbah udang merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomisnya. Perkembangan lebih lanjut menunjukkan bahwa dari limbah udang dapat diproduksi khitin, khitosan, protein konsentrat, flavoran (zat perasa) dan pigmen karotenoid (Desiana, 2000). Seiring dengan perkembangan teknologi pembuatan pakan ikan, sumber-sumber karotenoid dapat diformulasikan dan dimasukkan ke dalam pakan. Selain itu kelengkapan dan keseimbangan nutrien pakan buatan (protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral) untuk ikan yang dipelihara lebih mudah diatur dan diketahui sesuai kebutuhan dengan ikan. 

        Penggunaan tepung kepala udang yang ditambahkan ke dalam pakan buatan sebagai sumber karotenoid alami, diharapkan dapat memberi nilai lebih dari sisi kualitas dan dapat meminimasi biaya produksi karena dianggap ramah lingkungan, mendaur ulang limbah, dan masih mengandung nutrisi yang tinggi (protein ± 49%, lipid ± 5% berat kering) (Sachindra & Mahendrakar, 2005; Sánchez-Camargo et al., 2011). Diketahui bahwa kadar protein yang baik bagi pertumbuhan benih ikan koi, maskoki, dan beberapa jenis Cyprinid lainnya berkisar antara 29-43% (Lochmann & Phillips, 1994; Yanong, 1996; Min Xue & Yibo Cui, 2001; Sales & Janssens, 2003; Bandyopadhyay et al., 2005) maka penggunaan kadar protein sebesar 30% dalam penelitian ini dinilai lebih efisien. Selain itu, untuk mendapatkan hasil yang baik dalam penelitian ini, kadar lipid juga dipertimbangkan. Kadar lipid merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyerapan karotenoid dalam tubuh ikan, kadar lipid yang optimal sekitar 15% untuk menghasilkan penyerapan canthaxantin yang tinggi seperti pada kasus ikan rainbow trout (Tonissen et al., 1990).

        Hasil penelitian Subamia et al. (2013) menunjukkan bahwa pemberian pakan buatan yang diperkaya dengan tepung kepala udang dalam pakan telah menghasilkan pertumbuhan baik bobot maupun panjang pada ikan koi. Hal ini membuktikan bahwa ikan ini mampu memanfaatkan pakan yang diberikan untuk pemeliharaan tubuh maupun pertumbuhan. Pakan dalam penelitian ini dianggap telah memenuhi semua kebutuhan gizi ikan, hal ini terlihat dari nilai nutrisi yang terkandung dalam pakan dan performansi yang dihasilkannya. Seperti pernyataan Yandes et al. (2003) bahwa pertumbuhan terjadi apabila ada kelebihan energi setelah energi yang tersedia digunakan untuk metabolisme standar, pencernaan, serta untuk beraktivitas. 

       Penambahan tepung kepala udang diperkirakan ikut memberikan kontribusi dalam menyumbang nilai nutrisi pakan. Tepung kepala udang adalah limbah udang memiliki banyak komponen yaitu: bahan mineral, khitin, protein, dan pigmen karotenoid. Komponen-komponen tersebut dapat mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi apabila dimanfaatkan sebaik mungkin (Karmas, 1982). Komponen-komponen yang terdapat dalam kulit udang adalah total N kasar non protein 4,3%; lemak 0,5%; protein kasar 26,8%; khitin nitrogen 2,4%; khitin 34,9%; abu 29,3%; pospor 0,8%; kalium 8,2%; kalsium 1,7% (Benjakul & Sopharodora, 1993). Menurut Shahidi & Synowicki (1992), limbah udang mengandung protein 41,9%; khitin 17,0%; abu 29,2%; dan lemak 4,5% dari bahan kering. Hal ini memberikan informasi bahwa penambahan tepung kepala udang dalam pakan selain sebagai sumber karotenoid juga memberikan nilai nutrisi sebagai bahan baku alternatif pakan.

        Selain pertumbuhan, kualitas ikan hias juga dinilai berdasarkan warna yang ditampilkannya. Berbagai warna-warni indah pada ikan dalam hal ini ikan koi pada dasarnya dihasilkan oleh sel-sel pigmen (kromatofor) yang terletak pada lapisan dermis. Sel-sel tersebut masing-masing mempunyai nama sesuai dengan jenis-jenis pigmen yang dikandungnya, yaitu: melanofor yang menyimpan pigmen hitam, eritrofor menyimpan pigmen merah, xantofor menyimpan pigmen kuning, dan iridofor yang tidak mengandung pigmen tetapi mengandung kristal-kristal guanin yang mampu memantulkan atau memendarkan cahaya ke dalam komponen warna penyusunnya (Anonim, 2002). Sel-sel penyandang pigmen ini berbentuk menyerupai bintang. Perubahan warna yang terjadi pada ikan dipengaruhi oleh persebaran granula pigmen dalam sel tersebut. Menurut Sally (1997), pergerakan granula pigmen pada kromatofor dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu kromatofor dengan granula pigmen yang berkumpul di dekat nukleus dan kromatofor yang tersebar di seluruh bagian sel. Granula pigmen yang tersebar di dalam sel menyebabkan sel tersebut dapat menyerap sinar dengan sempurna sehingga terjadi peningkatan warna sisik, sedangkan granula pigmen yang berkumpul dalam sel menyebabkan penurunan warna sisik. 

          Hasil kuantifikasi visual menggunakan TCF (Toca Colour Finder) diketahui bahwa warna merah pada ikan koi terlebih dahulu ditampilkan dalam warna kuning kemerahan selanjutnya mengarah ke warna merah. Hasil kuantifikasi ini telah menampilkan empat perankingan warna dimulai dari warna terendah menuju tinggi yaitu ranking 1 (kuning kemerahan), 2 (merah pudar), 3 (merah sedang), 4 (merah). Gambar 3 menunjukkan bahwa warna kuning merah pada ikan koi meningkat dibandingkan awal penelitian pada semua perlakuan. Ranking tertinggi (warna merah) dicapai oleh ketiga perlakuan mulai dari perlakuan tepung kepala udang 5% hingga 15% dalam pakan pada akhir penelitian. Pakan dengan persentase 0% tepung kepala udang dalam pakan menghasilkan performansi warna terendah.

         Pada ikan koi warna kuning merah mengalami peningkatan dibandingkan kondisi awal penelitian. Hasil ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian sumber karotenoid tepung kepala udang dalam pakan terhadap warna ikan koi. Karotenoid yang terdapat dalam tepung kepala udang mempunyai sifat sebagai provitamin A dan dapat berfungsi sebagai antikanker (antioksidan) (Iwasaki & Murakoshi, 1992). Karotenoid yang bersifat provitamin A dalam pencernaan akan larut dalam lemak. Di lambung proses pencernan lemak tidak begitu efektif. Proses pencernaan lemak secara intensif dimulai pada segmen usus. Dengan demikian penggunaan sumber karotenoid tepung kepala udang dalam penelitian diharapkan juga memberikan nilai tambah bagi kesehatan ikan. Penyerapan karotenoid dalam sel-sel jaringan ini akan mempengaruhi sel-sel pigmen (kromatofora) dalam kulit ikan. Kandungan astaksantin dalam karotenoid akan meningkatkan pigmen merah pada sel pigmen merah (eritrofora), sehingga warna yang dihasilkan akan tampak lebih jelas. Menurut Vevers (1982), karotenoid pada hewan berperan dalam pemberian warna kuning, jingga dan merah, namun bila berikatan dengan protein akan menjadi karotenoprotein, yang menghasilkan warna biru dan ungu. Karotenoid tersebut diidentifikasi sebagai astaksantin dan canthaksantin.

        Menurut Evans (1993), pergerakan granula pigmen mengakibatkan perubahan warna disebabkan oleh suhu, cahaya dan lain-lain yang dikendalikan oleh sistem saraf dan hormon. Beberapa penelitian banyak menggunakan sumber-sumber karotenoid untuk meningkatkan warna pada ikan. Karotenoid merupakan suatu kelompok pigmen yang berwarna kuning, orange, atau merah orange, mempunyai sifat larut dalam lemak atau pelarut organik, tetapi tidak larut dalam air (Anonim, 2009). Selain itu Latscha (1991), karotenoid adalah kelompok karoten yang berupa xantofil dan terdiri dari gugus karbon, hidrogen dan oksigen, contohnya taraxanthin, lutein, dan astaksantin. Sedangkan pada perkembangan seksualnya ikan jantan dewasa akan menyimpan karotenoid pada kulit tubuhnya (Bjerkeng et al., 1992). 

        Untuk menghasilkan data yang objektif, selain menggunakan kuantifikasi visual dengan TCF, warna ikan juga diukur secara spektrometri dengan panjang gelombang tertentu. Nilai pengukuran warna pada alat ini adalah nilai total karotenoid yang terdapat dalam tubuh ikan.  Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang cukup signifikan terhadap warna ikan koi yang diberikan berbagai perlakuan dosis kepala udang dalam pakan. Penyimpanan karotenoid dalam tubuh ikan koi dalam penelitian ini telah ditampilkan di bagian kulit di mana warna akan meningkat. 

        Guillaume et al. (2001) menyatakan bahwa karotenoid adalah pigmen yang larut dalam lemak yang memiliki kisaran warna dari kuning hingga merah tua. Karotenoid hanya dapat dideposisikan pada jaringan spesifik (kulit, otot, eksoskeleton, dan kelenjar pencernaan). Jenis karotenoid yang dapat diserap oleh ikan adalah astaksantin dan dapat dikonversi dari canthaxanthin yang sumbernya banyak terdapat pada sebagian besar krustase (udang-udangan). Astaksantin adalah karoten yang paling banyak digunakan dan diaplikasikan (Johnson, 1991). Astaksantin merupakan pigmen merah orange pada alga, mikroorganisme dan krustase. Pigmen ini digunakan sebagai makanan tambahan untuk pigmentasi hewan-hewan, seperti ikan salem, udang, dan hewan-hewan yang tak bisa mensintesa beta-karoten sendiri (Storebakken, 1992). Astaksantin warna dasarnya adalah merah, yang akan diserap dan disimpan sebagai pigmen merah, sehingga bila terjadi perubahan pigmen dalam tubuh ikan dapat terlihat pigmentasi warna pada ikan (Latscha, 1990).

        Berdasarkan hasil penelitian pada ikan koi diketahui bahwa pemberian tepung kepala udang dalam pakan dapat meningkatkan kualitas warna ikan. Peningkatan kualitas warna terukur dengan kuantifikasi visual menggunakan TCF untuk memudahkan penilaian warna. Selain itu pengukuran kualitas warna juga dilakukan dengan alat spektrofotometri dan telah menghasilkan perubahan warna yang cukup signifikan antar perlakuan pada ikan koi. Dengan penambahan karoten dalam tubuh ikan maka dapat meningkatan penyerapan sel-sel pigmen sehingga kualitas warna ikan pun akan meningkat, dibandingkan dengan pemberian pakan tanpa karoten. Hal tersebut berlaku pada penelitian ini, di mana ikan koi yang diberikan pakan tanpa sumber karoten yang berasal dari tepung kepala udang, peningkatan warnanya lebih lambat dibandingkan yang menggunakan tepung kepala udang. Pemberian tepung kepala udang sebesar 10% menunjukkan performansi warna yang sama atau hampir sama baik secara kuantifikasi visual menggunakan TCF ataupun analisis nilai total karotenoid menggunakan spektrofotometer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanfaatan Tepung Daun Turi dalam Pakan untuk Kualitas Warna dan Pertumbuhan Ikan Rainbow Kurumoi

GAMBARAN PROFIL ASAM AMINO DALAM FORMULASI PAKAN IKAN PADA BERBAGAI RASIO TEPUNG MAGGOT DAN TEPUNG CACING TANAH

JENIS PAKAN ALAMI TERBAIK UNTUK BENIH IKAN BUNTAL AIR TAWAR