Pemanfaatan Tepung Daun Turi dalam Pakan untuk Kualitas Warna dan Pertumbuhan Ikan Rainbow Kurumoi


https://journal.unram.ac.id/index.php/jfn VOLUME 1, NOMOR 1, JUNI 2021

https://doi.org/10.29303/jfn.v1i1.157

PEMANFAATAN TEPUNG DAUN TURI DALAM PAKAN UNTUK KUALITAS WARNA DAN PERTUMBUHAN IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva)


Nina Meilisza1*, Etyn Yunita2, Siti Murniasih1, Rina Hirnawati1, Lili Sholichah1, Sukarman1, dan Deska Ulul Muta’al2

1Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Kementerian Kelautan dan Perikanan,

2Program Studi Biologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta Jalan Perikanan No.13, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat 16436

*Korespondensi email : nina.meilisza@kkp.go.id 


PENDAHULUAN

         Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan spesies ikan air tawar. Indonesia memiliki 440 spesies ikan air tawar endemik, menduduki urutan ke empat setelah Brazil memiliki 1716 spesies, China memiliki 888 spesies dan Amerika Serikat 593 spesies (Kurniawan, 2014).

Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia. Dari sekian banyak jenis ikan hias, tidak semuanya telah dapat dibudidayakan. Dalam budidaya ikan hias harus diperhatikan bahwa masing-masing jenis mempunyai sifat dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda, misalnya dalam cara pemijahan, bertelur maupun menyusun sarangnya (Nurbaety, 2012).

Ikan hias merupakan ikan yang memiliki penampilan menarik, sehingga penampilannya menjadi faktor utama dalam menilai daya tarik ikan hias. Lesmana dan Daelami (2009) menyebutkan daya tarik ikan hias dapat diukur dari warna yang cemerlang, bentuk dan kelengkapan fisik, perilaku, serta kondisi kesehatan atau staminanya. Selain itu juga keduanya juga menuliskan faktor yang mempengaruhi daya tarik ikan hias dibagi dua, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yaitu jenis dan sifat ikan (faktor genetik), jenis kelamin serta umur. Sedangkan faktor luar yaitu lingkungan tempat pemeliharaan, pakan, dan kondisi kesehatan ikan.

Terdapat beberapa jenis ikan hias pelangi (Rainbow), ada yang sudah diberi nama dan ada juga yang belum. Ikan ini mempunyai nilai jual yang tinggi dan merupakan komoditas ekspor (Axelrod et al., 2004). Habitat asalnya di papua merupakan daerah yang masih asli, namun sering terjadi perubahan alam yang mengakibatkan beberapa spesies ikan rainbow berkurang bahkan punah. Salah satu jenis hasil ekspedisi Balai Riset Budidaya Ikan Hias bekerja sama dengan IRD (Institut de recherche pour le développement) Prancis yang berhasil diadaptasikan dan telah berkembang biak adalah Rainbow asal Danau Kurumoi dan telah diberi nama Melanotaenia parva.

Warna merupakan salah satu parameter dalam penentuan nilai ikan hias. Semakin cerah warna suatu jenis ikan, maka semakin tinggi nilainya. Dengan demikian para pencinta ikan hias akan berusaha untuk mempertahankan keindahan warna tersebut (Storebaken & No, 1992 dalam Said dkk., 2005). Pemeliharaan ikan rainbow di akuarium dengan pakan komersial yang diberikan cenderung memperlihatkan kualitas warnanya lebih rendah (pudar) sehingga penampilannya menjadi kurang menarik. Parameter keindahan berbagai jenis ikan hias dapat diukur dari warna, bentuk badan, fisik, dan tingkah lakunya. Pada umumnya pigmentasi pada ikan secara makroskopis dapat dilihat seperti garis, pita dan bercak-bercak (Gustiano, 1992 dalam Subamia, dkk, 2010).

Komponen utama pembentuk pigmen merah dan kuning pada ikan adalah senyawa karotenoid. Karotenoid adalah sumber utama dalam proses pigmentasi pada ikan hias atau ikan daerah tropis, untuk berbagai macam spesies ikan berwarna kuning, merah dan warna lainnya (Meyers, 1994 dalam Sukarman dan Chumaidi, 2010). Tappin (2010) menambahkan bahwa karotenoid juga merupakan nutrien yang sangat penting bagi kesehatan, pertumbuhan, metabolisme, dan reproduksi ikan. Sumber karotenoid untuk ikan banyak ditemukan dari tanaman maupun produk hewani. Sumber karotenoid yang telah diteliti sebagai pakan ikan antara lain, kepala udang pada ikan koi jenis kohaku ( Sari, dkk.,, 2012), rainbow merah (Subamia, dkk., 2010) serta rainbow kurumoi (Prayogo, dkk, 2012), wortel pada lobster red claw ( Satyantini, dkk, 2009) dan minyak buah merah pada ikan kakap (Aslianti dan Nasukha, 2012).

Tanaman turi (Sesbania grandiflora) merupakan tanaman yang mudah ditemui di sekitar lingkungan. Tanaman ini dapat tumbuh di tempat-tempat yang agak teduh dan tanah kapur ataupun tanah yang tandus sehingga tanaman ini dapat tumbuh subur walaupun pada musim kemarau dan sifat khusus dari tanaman turi ini adalah pertumbuhannya yang begitu cepat (AAK, 1983 dalam Utami, dkk., 2012).

Upaya pemanfaatan sumber karotenoid dari tanaman dapat menurunkan ketergantungan akan sumber karotenoid buatan dan meningkatkan pemanfaatan bahan baku yang sifatnya lokal dan banyak tersedia di alam sehingga dapat mengurangi biaya produksi pakan ikan. Daun adalah bagian tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karotenoid.

Daun turi telah dimanfaatkan sebagai pakan tambahan terhadap ayam buras dara (Wirdateti, 1993), Ikan bawal (Utami, et al, 2012) dan sapi potong (Marsetyo, 2008). Rodriguez-Amaya (1997) melaporkan bahwa kandungan karotenoid turi yaitu 66± 22 µg/g sehingga cukup potensial digunakan sebagai bahan pakan ikan alternatif sumber karotenoid bagi ikan herbivor maupun omnivor. Selain itu, daun turi memiliki kandungan protein dan lemak masing-masing 31,7% dan 1,9% (Murtidjo, 1987 dalam Utami, dkk., 2012).

Berdasarkan fenomena tersebut, dilakukan penelitian “Penambahan Sumber Karotenoid Tepung daun turi (Sesbania grandiflora) Terhadap Warna Ikan Rainbow Kurumoi (Melanotaenia parva)”. Penelitian ini ingin mengetahui sejauh mana penambahan tepung daun turi ke dalam pakan memberikan pengaruh terhadap tampilan warna dan pertumbuhan ikan pelangi.

 

METODE PENELITIAN

 

Penelitian ini dilakukan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan. Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas akuarium bervolume 20 L sebanyak 12 buah yang dilengkapi dengan aerasi, toca color finder, timbangan, millimeter blok yang telah dilaminating, pengayak, oven, blender, baskom, plastik, refrigerator, kamera digital, kalkulator, termometer, pH meter, DO meter, COD meter, tetra test, selang, spons, penggiling dan mesin cetak pelet. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 60 ekor ikan rainbow kurumoi berukuran 4-6 cm, daun turi, air, binder, Phenoxy, el-Bayou dan pakan komersial (pakan feng li).

Tahap pembuatan pakan perlakuan meliputi pembuatan tepung daun turi dan dilanjutkan dengan pembuatan pelet dengan penambahan karotenoid tepung daun turi pada pelet komersial dengan kandungan karotenoid daun turi sebanyak 0 ppm, 100 ppm, 150 ppm dan 200 ppm. Masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulanganPenghitungan jumlah tepung daun turi didasarkan pada laporan penelitian Meilisza (2013), yang menyebutkan bahwa kandungan karotenoid daun turi adalah 0,15%. Komposisi pakan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Komposisi pakan perlakuan




Tahap pembuatan tepung daun turi meliputi daun turi yang telah dikumpulkan, kemudian daun turi dipisahkan dari batangnya agar lebih mudah dalam proses pengeringan. Daun turi kemudian di keringkan menggunakan oven bersuhu 60ºC hingga kering. Setelah itu, daun turi digiling menggunakan blender hingga menjadi tepung dan diayak.

Pembuatan pelet dilakukan pada perlakuan B, C dan D. Tahap pembuatan pelet pakan dilakukan dengan mencampur seluruh jenis bahan didalam wadah dan diaduk hingga tercampur rata. Kemudian ditambahkan air sedikit demi sedikit hingga lembab. Selanjutnya dimasukkan ke dalam mesin cetak pelet dan setelah selesai pelet di oven hingga kering. Pelet yang telah kering kemudian di giling agar menjadi potongan yang lebih kecil. Selanjutnya dilakukan pengayakan untuk memisahkan hasil penggilingan sesuai ukurannya. Pelet yang dipilih yaitu pelet yang sesuai ukuran bukaan mulut ikan.

Wadah yang digunakan adalah akuarium berjumlah 12 akuarium yang berukuran 20 liter. Akuarium dibersihkan menggunakan spons, dibilas dikeringkan. Setelah itu, akuarium diisi dengan air sebanyak 12 liter dan dipasang aerator. Ikan uji yang digunakan yaitu ikan rainbow kurumoi yang berasal dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPIH) Depok.

Sebelumnya ikan diadaptasikan terlebih dahulu terhadap media budidaya dan diberi pakan komersial secara at satuation. Setelah masa adaptasi selesai ikan dipuasakan selama 24 jam dengan tujuan untuk menghilangkan pengaruh sisa pakan dalam tubuh ikan. Ikan diukur bobotnya dengan neraca analitik dan pengukuran panjang total ikan dilakukan dengan menggunakan kertas milimeter blok dengan bantuan kamera. Ikan ditebar sebanyak 5 ekor per akuarium.

Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari dengan pemberian pakan perlakuan sebanyak 6% dari biomassa ikan perhari dan diberikan dalam tiga tahapan yakni pada jam 08.00, 12.00 dan 16.00 WIB masing-masing sebanyak 1/3 dari kadar pakan per hari  (2%  dari  biomassa  ikan)  dengan  pakan  sesuai  masing-masing  perlakuan.

        Pengamatan pertumbuhan biomassa dan warna ikan dilakukan melalui sampling ikan setiap 10 hari sekali. Pengukuran panjang dan bobot ikan menggunakan kertas millimeter blok dan timbangan digital. Laju pertumbuhan harian dilakukan dengan mengukur bobot pada masing-masing perlakuan. Penampilan warna dari semua perlakuan diamati pada tiga kategori yaitu badan, garis tengah badan, dan sirip ekor. Pengukuran warna menggunakan alat toca color finder.

Sistem kontrol air dilakukan dengan membersihkan akuarium setiap pagi sebelum pemberian pakan. Hal ini dilakukan agar pakan tidak tercampur dengan kotoran ikan dan menjaga agar kondisi air tetap bersih. Akuarim dibersihkan dengamenggunakan spons dan dibiarkan beberapa saat hingga kotoran mengendap didasar akuarium. Selanjutnya kotoran tersebut disedot dengan menggunakan selang kecil. Air yang dikeluarkan sekitar 75%. Setelah selesai ditambahkan air yang telah diaerasi dari tandohingga volumenya 12 L. 

  Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO), karbondioksida (CO2), nitrat dan alkalinitas. Pengukuran suhu dilakukan setiap 2-hari, sedangkan pH, oksigen terlarut, karbondioksida (CO2), nitrat dan alkalinitadiukur setiap 10 hari sekali. Data dari semua parameter hasil pengamatan dijelaskan secara deskriptif.

















     

HASIL

 Penampilan Warna Ikan Rainbow Kurumoi

Kemunculan warna jingga pada ikan rainbow kurumoi sangat diharapkan karena merupakan jenis warna yang diinginkan oleh pembudidaya dan hobiis. Hal ini dikarenakan warna jingga lebih menarik dibandingkan warna kuning. Warna jingga tertinggi dihasilkan oleh perlakuan 100 ppm dengan jumlah warna jingga 46% pada bagian dorsal dan 40% pada bagian sirip ekor. Pada kontrol jumlah warna yang dihasilkan adalah 20% pada bagian dorsal dan 26,7% pada bagian sirip ekor, perlakuan 150 ppm dihasilkan 33,3% pada dorsal dan 40% pada sirip ekor serta perlakuan 200 ppm menghasilkan 26,7% pada dorsal dan 33,3% pada sirip ekor. 

 















Peningkatan warna selama pengamatan berfluktuasi. Kepekatan warna jingga tertinggi pada akhir pengamatan dihasilkan oleh perlakuan 100 ppm dan 200 ppm pada bagian dorsal, sementara pada bagian sirip ekor menghasilkan kepekatan yang sama kecuali pada kontrol. Sementara warna kuning paling pekat dihasilkan oleh perlakuan kontrol pada bagian dorsal dan 150 ppm pada bagian ekor.

 

Pertumbuhan Ikan Rainbow Kurumoi

Hasil Pengamatan selama 40 hari diperoleh data pertumbuhan seperti yang tertera pada gambar 9, 10, 11, 12. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah pertambahan panjang dan bobot. Gambar 11 menunjukkan panjang rata-rata ikan setiap 10 hari sekali. Panjang rata-rata ikan tertinggi diperoleh dari perlakuan 100 ppm dan terkecil dari perlakuan 200 ppm. Gambar 12 menunjukkan pertambahan panjang rata-rata ikan setiap sampling. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pertambahan panjang ikan berfluktuasi dan berkisar antara 0-0,1 cm. Pertambahan panjang rata- rata ikan tertinggi dan terendah diperoleh dari perlakuan 0 ppm (kontrol). Tertinggi pada sampling ke-2 sebesar 0,1 cm dan terendah pada sampling ke-3 sebesar 0 cm. Kecilnya pertambahan panjang ikan dikarenakan ikan ini memiliki pertumbuhan yang lambat.





Hasil pengamatan terhadap bobot ikan Rainbow Kurumoi menunjukkan bahwa peningkatan bobot paling baik diperoleh dari ikan yang tidak diberi tambahan tepung daun turi.

 

 



Gambar 13 menunjukkan bahwa bobot rata-rata ikan tertinggi pada akhir pengamatan diperoleh dari perlakuan kontrol (0 ppm) sebesar 1,8 gram dan terendah dari perlakuan 150 ppm dan 200 ppm sebesar 1,3 gram. Terlihat bahwa Penambahan karotenoid 100 ppm pada awal pengamatan memberikan penambahan bobot hingga hari hari kedua puluh, sedangkan pada perlakuan karotenoid 150 ppm dan 200 ppm mengalami penurunan sejak awal pengamatan.

Gambar 14 menunjukkan bahwa pertambahan bobot rata-rata tertinggi terjadi pada perlakuan kontrol saat sampling ke-1 sebesar 0,11 gram dan terendah pada perlakuan 150 ppm saat sampling ke-1 sebesar -0,11 gram. Pertambahan bobot total atau bobot mutlak (gambar 18) menunjukkan bahwa pertambahan bobot tertinggi diperoleh  dari  perlakuan  kontrol  (0  ppm)  sebesar  0,18  gram  dan  terendah  dari perlakuan 150 ppm sebesar 0,24 gram.

 

Sintasan Ikan Rainbow Kurumoi

        Sintasan ikan selama pengamatan tidak diperoleh nilai 100% pada perlakuan manapun. Perlakuan 200 ppm memiliki ketahanan hidup paling rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh pakan ikan dan juga lingkungan


Kualitas Air

Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO), karbondioksida terlarut (CO2), nitrat (NO3) dan alkalinitas. Kisaran kualitas air selama pengamatan dapat dilihat pada tabel 5. Kisaran kualitas air selama pengamatan menunjukkan bahwa seluruh perlakuan berada pada kisaran yang layak untuk  ikan  rainbow  kurumoi  sesuai  yang  dituliskan  oleh  Tappin  (2010),  kecuali alkalinitas pada perlakuan kontrol yang berada dibawah konsentrasi optimal.


Nilai kualitas air yang berada diluar batas toleransi ikan akan mempengaruhi daya tahan ikan. Alkalinitas menunjukkan kadar garam-garam mineral dalam perairan. Garam mineral diperlukan ikan untumempertahankan kondisi osmosis dalam tubuh ikan. Nilai alkalinitas akuarium tidak selalu berada pada kisaran yang disarankanMeskipun nilai alkalinitas berada di bawanilai minimum toleransi ikan, pengaruhnya tidak signifikan. Hal ini dikarenakan nilai kualitas air lainnya berada pada kisaran yang dapat ditoleransi ikan. Hal ini seperti yang dilaporkan oleh Tappin (2010) bahwa beberapa faktor kualitas air lebih penting, seperti tingkat buangan nitroge(nitrogenous waste level), oksigen terlarut, pH dan suhu, sedangkan faktor lain, seperti alkalinitas, hardness dan kejernihan memiliki beberapa efek, tapi biasanya tidak signifikan.


PEMBAHASAN

         Warna sebagai nilai estetika ikan hias akan mempengaruhi nilai ekonomisnya, maka warna harus dapat ditingkatkan dan dipertahankan kualitasnya. Salah satu cara untuk mempertahankan warna ikan hias yaitu melalui rekayasa nutrisi pakan. Penggunaan Toca Color Finder (TCF) untuk menganalisis warna ikan hias sudah dilakukan oleh beberapa peneliti, diantaranya Meilisza (2013), Subamia (2011), . Kesulitan yang terjadi dalam analisis mennggunakan TCF sistem penomoran dan gradasi warnanya terlalu rumit untuk dikonversi ke dalam nilai (skor). Oleh karena itu, penilaian menggunakan menggunakan TCF pada penelitian ini adalah untuk melihat kecenderungan perubahan warna sebelum dan sesudah diberi perlakuan.

Penelitian ini dilakukan dengan mengamati perubahan tingkat warna pada tubuh ikan Rainbow Kurumoi dan dibandingkan dengan alat Toca Color Finder (TCF). TCF pada penelitian ini hanya alat untuk melakukan pengukuran warna secara kuantitatif, walaupun secara aplikatif TCF digunakan dalam industri garmen, percetakan dan cat. Nilai kuantitatif yang diperoleh dianggap merupakan nilai kualitas suatu warna yaitu semakin cerah dan pekat warna yang terlihat semakin tinggi nilai warnanya dan sebaliknya, semakin pudar semakin rendah nilai warnanya. Data yang diperoledigunakan untuk mendeteksi jumlah karotenoid, semakin tinggi tingkat warna maka semakin banyak karotenoid yang dikandung.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian 100 ppm dari tepung daun turi untuk ikan rainbow adalah yang optimal. Persentase yang menurun pada perlakuan 150 ppm menunjukkan bahwa dosis yang lebih tinggi tersebut tidak mampu dimanfaatkan dengan baik oleh ikan. Hal ini diduga karena pakan terlalu pekat sehingga ikan tidak dapat memanfaatkan karotenoid dengan baik dalam sistem metabolisme ikan.

Kemampuan pigmentasi dari suatu bahan tidak hanya ditentukan oleh tingginya kandungan karotenoid tetapi juga jenis karotenoid di dalamnya. Karotenoid dalam bentuk betakaroten yang kebanyakan terdapat di dalam tanaman setelah diserap dalam tubuh akan dikonversi menjadi vitamin A sehingga diduga tidak akan berpengaruh terhadap pigmentasi baik pada ikan seperti halnya pada ternak (Sukarman dan Chumaidi, 2010).

Persentase warna jingga lebih banyak diperoleh pada bagian ekor dibandingkan bagian dorsal, tetapi warna jingga lebih pekat pada bagian dorsal. Hal ini diduga karena adanya perbedaan struktur antara bagian dorsal dan sirip ekor. Guillaume (2001) dalam Hirnawati, dkk., (2012) menyebutkan bahwa konsentrasi pigmen pada jaringan tergantung pada jenis pigmen, kadar pigmen dalam pakan, kemampuan ikan dalam mendeposit atau mengkonversi pigmedan lama pemberiannya.

Warna hitam pada linea lateralis menghasilkan kepekatan warna yang mendekati konstan. Hal ini diduga karena karotenoid pada daun turi lebih memicu pembentukan pigmen jingga dan kuning dibandingkan hitam. Warna hitam pada linea lateralis yang diharapkan yaitu semakin kontras dengan warna latar atau semakin gelap.

Kusuma (2012) menjelaskan bahwa sel pigmen dalam tubuh ikan jumlahnya dapat berubah sehingga dapat mempengaruhi warna pada ikan. Jika sel-sel pigmen tersebar secara merata maka warna tubuh ikan akan tampak lebih pekat, tetapi apabila sel-sel pigmen mengumpul di satu titik inti sel maka warna tubuh akan menjadi pucat.

Menurut Evans (1993) dalam Prayogo (2012), perubahan warna yang disebabkan oleh penambahan pigmen dalam kromatofor merupakan perubahan morfologis, sedangkan perubahan warna yang disebabkan oleh pergerakan pigmen didalam kromatofor disebut perubahan fisiologis. Perubahan jumlah pigmen di dalam sel dan aktivitas pergerakan dikontrol oleh sistem saraf pusat dan hormon yang salah satunya dipengaruhi oleh pakan yang diberikan.

Storebaken dan No (1992) dalam Prayogo, dkk., (2012) menyebutkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pigmentasi pada ikan, antara lain ukuran ikan, umur ikan, perkembangan seksual dan faktor genetik. Panjang ikan pada akhir pengamatan berkisar antara 5-7 cm (lampiran 2), sedangkan panjang maksimum ikan menurut Tappin (2010) yaitu 9-10 cm. Hal ini menunjukkan bahwa ikan yang diamati belum dewasa sehingga pigmentasi yang diperoleh belum atau tidak maksimal. Satyani dan Sugito (1997) dalam Yulianti, dkk., (2014) menambahkan bahwa semakin dewasa ikan, intensitas kecerahan tubuh ikan semakin meningkat, pada umur tertentu intensitas warna akan kembali turun sehingga dibutuhkan sumber karotenoid yanlebih tinggi.

Secara umum ikan akan menyerap karotenoid yang ada di dalam pakan secara langsung dan menggunakannya sebagai pembentuk pigmen untuk meningkatkan intensitas warna pada tubuh ikan (Torrisen, 1988 dalam Indarti, 2012). Karotenoid yang didapat dari pakan akan didistribusikan dalam jaringan lemak tubuh ikan (Evans, 2002  dalam Indarti, 2012).  Secara  fisiologis  ikan  akan mengubah pigmen  yang diperoleh dari makanannya, sehingga menghasilkan variasi warna.

Reji dan Alphonse (2013) menuliskan bahwa daun turi memiliki kandungan glikosida. Pengujian oleh Bahera (2012) menunjukkan glikosida yang ada pada daun turi antara lain yaitu saponin, tanin, fenol, kardiak glikosida dan antrakuinon glikosida.

Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang kuat dan menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Saponin larut dalam air dan alkohol tapi tidak dalam eter. Pengaruh saponin terhadap ikan telah banyak dilaporkan, diantaranya Roy, dkk., (1990) dalam Francis, dkk. (2002) melaporkan bahwa saponin merusak sel epitel pernapasan, sementara Roy dan Munshi (1989) dalam Francis, dkk. (2002) menambahkan bahwa saponin meningkatkan konsumsi oksigen, sel darah merah, hemoglobin dan haematokrit.

Penurunan rata-rata pertumbuhan diduga disebabkan ada tidaknya saponin. Robinson (1995) dalam Jaya (2010) menyatakan bahwa Saponin dapat mengabsorpsi Ca (kalsium) dan Si (Silikon) dan membawanya dalam saluran pencernaan. Ca merupakan makromineral yaitu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah yang relatif besar. Mineral kalsium (Ca) memiliki fungsi struktural yaitu fungsi mineral untuk pembentukan struktur seperti tulang, gigi dan sisik ikan serta berperan dalam kontraksi otot ikan. Silikon (Si) merupakan mikronutrien bagi ikan akan tetapi hingga kini belum diketahui fungsinya bagi ikan (Sukarman dan Sholichah, 2011). Sifat saponin yang mengikat Ca diduga menjadi penyebab menurunnya rata-rata pertambahan panjang individu seiring meningkatnya konsentrasi tepung daun turi.

Pengamatan terhadap bobot ikan menunjukkan bahwa ikan yang tidak diberi perlakuan penambahan tepung daun turi (kontrol) mengalami penambahan bobot selama pengamatan sementara ikan yang diberi tambahan tepung daun turi memiliki bobot yang lebih rendah pada akhir penelitian dibandingkan bobot ikan pada awal penelitian. Penurunan bobot ikan ini diduga karena ikan mengalami malnutrisi. Malnutrisi terjadi dikarenakan pakan yang diberikan tidak memenuhi kebutuhan pemeliharaan (maintenance).

Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat asupan gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan oleh ketidakseimbangan di antar pengambilan makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan. Ini bisa terjadi karena asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat terjadinya malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik (Oxford medical dictionary, 2007 dalam Azmi, 2010). Penyebab malnutrisi dapat dibagi kepada dua penyebab yaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder. Malnutrisi primer adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein maupun energi yang tidak mencukupi. Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi yang terjadi karena kebutuhan yang meningkat, menurunnya absorpsi dan peningkatan kehilangan protein maupun energi dari tubuh (Kleigmen dkk, 2007 dalam Azmi, 2010).

Menurunnya bobot ikan pada pemberian pakan yang diberi tambahan tepung daun turi diduga karena menurunnya absorpsi makanan oleh ikan. Hal ini dapat disebabkan karena daun turi merupakan pakan hijauan dengan kandungan serat daun turi 9,2 g setiap 100 g daun turi kering. Serat adalah bahan yang sukar dicerna. Kandungan serat yang tinggi akan membuat ikan menggunakan energi yang lebih besar untuk mencerna serat tersebut, sehingga diduga penurunan bobot pada ikan salah satunya disebabkan oleh serat dalam daun turi. Semakin besar penambahan tepung daun turi, semakin besar kandungan serat yang ada dalam pakan dan semakin tinggi energi yang dibutuhkan untuk mencerna serat yang ada dalam pakan

\Sifat saponin ini diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya pertambahan bobot pada perlakuan dikarenakan saponin bersifat toksik bagi ikan. Pengaruh zat toksik terhadap ikan menyebabkan morfologi insang berubah dan tidakmenyebabkan kematian dalam periode panjang. Selain itu, zat toksik dapat merusakfungsi respirasi dari insang sehingga proses metabolisme dalam tubuh terganggu dan menurunkan laju pertumbuhan (Rubiantoro, 1996 dalam Kusriani, dkk., 2012).

Penurunan bobot ikan pada perlakuan 100 ppm setelah mengalami kenaikan diduga karena pada awal pengamatan ikan masih dapat menoleransi konsentrasi saponin yang ada pada pakan dan setelah 20 hari daya tahan ikan terhadap saponin menurun sehingga ikan mulai mengalami penurunan bobot.

Tingkat sintasan rendah karena pakan diduga karena daun turi mengandung saponin. Mardiningsih, dkk., (2010) menyatakan bahwa saponin merupakan racun bagi binatang berdarah dingin terutama ikan dan hal ini kemungkinan disebabkan karena saponin adalah senyawa aktif permukaan. Saponin larut dalam air sehingga konsentrasi saponin yang tinggi selama perlakuan diduga menjadi penyebab menurunnya tingkat sintasan dengan semakin tingginya konsentrasi daun turi

Astaxanthin dan Canthaxanthin merupakan hasil metabolisme terakhir dari sumber-sumber karotenoid (Sukarman dan Chumaidi, 2010). Hal ini berarti pemberian karotenoid dari tepung daun turi akan di metabolisme menjadi astaxanthin dalam tubuh ikan. Meiyana dan Minjoyo (2011) dalam Yulianti, dkk., (2014) melaporkan bahwa dosis astaxanthin yang berlebihan dapat menurunkan daya tahan tubuh dan pewarnaan pada tubuh ikan. Hal ini mengindikasikan bahwa turunnya pewarnaan dan persentase warna jingga pada konsentrasi 150 ppm disebabkan kandungan karotenoid melebihi bataoptimal yandapat diterima ikan.


 

KESIMPULAN

 

Pemberian sumber karotenoid dari daun turi memberikan persentase dan kepekatan warna jingga paling optimal pada konsentrasi 100 ppm. Persentase warna jingga tertinggi diperoleh dari bagian dorsal. Penggunaan tepung daun turi dalam pakan berpotensi menurunkan performansi ikan (bobot badan) dibandingkan kontrol. Hal ini dikarenakan adanya kandungan saponin yang bersifat antinutrisi pada ikan.

 












Komentar

Postingan populer dari blog ini

GAMBARAN PROFIL ASAM AMINO DALAM FORMULASI PAKAN IKAN PADA BERBAGAI RASIO TEPUNG MAGGOT DAN TEPUNG CACING TANAH

PENINGKATAN KUALITAS WARNA IKAN RAINBOW MERAH (Glossolepis incisus, Weber 1907) MELALUI PENGKAYAAN SUMBER KAROTENOID TEPUNG KEPALA UDANG DALAM PAKAN