MENGENAL REPRODUKSI IKAN BUNTAL AIR TAWAR (Tetraodon palembangensis)
Mengenal Ikan Buntal Air Tawar
Ikan Buntal air tawar
(Tetraodon palembangensis) adalah salah satu spesies ikan air tawar yang
unik. Keunikan ikan ini terletak pada
bentuk tubuhnya yang bulat dan kemampuannya mengembang ketika menghadapi stress
atau gangguan dari luar. Lingkungan
tempat hidup ikan buntal air tawar terdapat di daerah demersal air tawar di
danau dan sungai yang beriklim tropis dengan daerah distribusi di sekitar Asia yaitu di Indonesia, Laos,
Thailand, dan Malaysia. Di Indonesia
ikan
ini dapat ditemukan pada perairan
umum di Palembang.
Di dunia perikanan, ikan buntal air tawar memiliki nilai
ekonomi tinggi dan harganya bersaing dengan spesies air tawar lainnya. Ikan ini mudah dipelihara karena mempunyai tingkat kemampuan hidup yang tinggi, memiliki
populasi yang rendah (sedikit), dengan masa reproduksi kembali kurang dari 15
bulan. Ukuran maksimal ikan ini adalah 18.0
- 20.0 cm ( 7.1 - 7.9 inchi), dan tidak berbahaya. Pada masyarakat lokal tempat ikan ini hidup,
buntal air tawar adalah jenis ikan konsumsi, namun dalam proses pengolahannya
harus berhati-hati karena dapat mengakibatkan keracunan, sehingga bagian kulit
dan organ dalam harus dibuang sebelum diproses.
Pemijahan
Untuk keberhasilan pemijahan, perlu
dilakukan persiapan-persiapan yang dilakukan mulai dari persiapan media dan
wadah, pemeliharaan induk, pakan dan pemberian pakan, proses reproduksi hingga
pemeliharaan benih.
Pemeliharaan Induk
Ikan
buntal air tawar yang akan menjadi calon induk, umumnya memiliki bobot berkisar
150 – 200 g/individu. Calon induk ini dapat
di tempatkan berpasangan pada akuarium bervolume sekitar 20 liter atau lebih. Di dalam
akuarium ditempatkan substrat berupa batu pipih yang bertujuan sebagai tempat
peletakkan telur. Selama pemeliharaan, pembersihan
air dilakukan setiap hari melalui penyiponan dan sedikit ganti air.
Pakan dan Pemberian Pakan
Ikan
buntal air tawar dapat diberi pakan berupa cacing tanah, cumi dan ikan teri.
Pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali pada pagi dan sore.
Reproduksi
Calon
induk diletakkan pada akuarium secara berpasangan agar dapat melakukan
pemijahan. Pada akuarium ditempatkan substrat berupa batu pipih yang bertujuan
untuk tempat peletakkan telur.
Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva
Telur yang dihasilkan dari proses
pemijahan, dipindahkan dari substrat dan ditempatkan pada akuarium. Persiapan
wadah dilakukan dengan menyiapkan akuarium berukuran 20 x 40 cm dengan ketinggian
air 10 – 15 cm. Air yang disiapkan terlebih dahulu ditambahkan dengan garam
sebanyak 2 ppt dan diberi MB (Methylen
Blue). Garam digunakan dengan tujuan
mempermudah proses lisis cangkang telur, sedankan MB digunakan untuk mencegah
infeksi jamur. Pengamatan telur
dilakukan dari umur 0 jam hingga 24 jam secara terus menerus, dan berlanjut
sampai usia 7 hari.
Pemeliharaan benih
Benih
yang dihasilkan setelah pemeliharaan larva selama 15 hari ditempatkan pada
wadah akuarium berukuran 60x70x50 cm dengan kepadatan 10 ekor/liter. Pada hari
ke 15 hingga 30 ikan diberi Culex sp.
Selanjutnya ikan dapat diberi pakan berupa cacing tanah dan ikan teri yang
dicacah sesuai bukaan mulutnya.
HASIL PENELITIAN
Domestikasi buntal air tawar (Tetraodon palembangensis) telah
menghasilkan kemampuan adaptasi dan reproduksi.
Kemampuan adaptasi terlihat dari penyesuaian ikan terhadap lingkungan
barunya. Lingkungan yang dimaksud adalah media hidup pada air yang ditempatkan
dalam akuarium. Dibandingkan dengan habitat aslinya di alam yaitu sungai dan
danau, maka penempatan ikan pada akuarium akan merubah perilaku dan
kebiasaannya.
Calon induk ikan buntal air tawar
mampu beradaptasi dengan makanan alami berupa cacing tanah, ikan teri, dan
cumi. Perilaku makannya agresif bila lapar, namun kuantitasnya tidak banyak.
Ikan ini cenderung hidup di dasar akuarium dan tidak menyukai makanan yang
berada di atas permukaan air. Jenis makanan yang disukai oleh ikan ini adalah
yang cenderung bergerak dan mudah dideteksi dengan indera penciuman. Berikut
ini adalah hasil analisa proksimat makanan alami berupa ikan teri, cumi, dan
cacing tanah.
Tabel
1. Hasil analisa proksimat makanan alami
|
Jenis pakan |
Kandungan
gizi (%) |
||
|
Protein |
Lemak |
BETN |
|
|
Ikan Teri |
72,8 |
4,6 |
0 |
|
Cumi-cumi |
82,2 |
10 |
0 |
|
Cacing tanah |
60,9 |
10,2 |
2 |
Keterangan: dalam bobot kering
Kandungan gizi yang terkandung dalam makanan alami di atas menunjukkan bahwa ketiga makanan alami tersebut memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk pertumbuhan maupun perkembangan gonad. Tingkat kematangan gonad calon induk ikan buntal air tawar dapat terlihat melalui pengamatan morfologi berdasarkan bentuk perut ikan yang membesar. Hasil pengamatan ini dijadikan acuan untuk membedakan jenis kelamin ikan.
Hasil
pengamatan kematangan gonad selanjutnya menjadi dasar kemungkinan peluang
pemijahan, sehingga perlu dilakukan persiapan media pemijahan dan menempatkan
ikan secara berpasangan. Pemijahan pada
ikan buntal air tawar terjadi secara alamiah, didahului dengan pelepasan telur
oleh betina yang meletakkan telurnya pada substrat. Selanjutnya, induk jantan
mengusir betina dari atas substrat untuk membuahi telur yang ada. Setelah
proses pembuahan terjadi, induk jantan tetap berada di atas substrat untuk
menjaga telur sedangkan betina menjauh dari substrat. Selama jantan berada di
atas substrat, pengamatan harus terus dilakukan karena stress dan gangguan dari
luar dapat mengakibatkan induk jantan memakan telurnya. Untuk menghindari hal
tersebut, dilakukan pemindahan telur pada akuarium lain.
Pemijahan
telah berhasil dilakukan oleh 2 pasang ikan yang ditempatkan pada akuarium yang
berbeda..Pemijahan yang dilakukan oleh buntal air tawar terjadi parsial. Dalam 1 periode, sepasang ikan dapat
melakukan 4 kali proses pemijahan dengan selang waktu memijah berkisar 14-18
hari. Jumlah telur (fekunditas) yang dihasilkan lebih dari 1000-1900 butir.
Derajat pembuahan tertinggi sebesar 96% dan derajat penetasan tertinggi
sebesar 78,6%. Bentuk telur buntal air
tawar pipih pada bagian bawah dan cembung di bagian atas, dengan warna bening
transparan. Pada telur juga terlihat
adanya lapisan minyak, dan umum terjadi pada telur yang berada pada substrat.
Kuning telur larva mulai terlihat
habis pada usia 3 hari dan dapat hidup dengan kuning telur hingga hari ke 6,
selanjutnya larva berkembang secara definitif hingga sempurna seperti
dewasa. Keunikan perilaku buntal air
tawar sudah dapat terjadi pada usia 7 hari. Tubuh larva sudah dapat
mengembang jika terganggu atau mendapat
tekanan dari lingkungan.
Pakan diberikan pada larva berusia 3
hari hingga hari ke 6 berupa pakan alami yaitu Moina sp yang telah disaring, hari ke 7 hingga hari 14 dapat
diberikan Moina sp tanpa disaring.
Pemberian pakan dilakukan secara ad
libitum. Pembersihan air dilakukan
setiap hari melalui penyiponan dan dilakukan pergantian air sesuai dengan
tinggi air semula.
KESIMPULAN
Domestikasi buntal air tawar (Tetraodon palembangensis) yang dilakukan
oleh Loka Riset Budidaya Air Tawar telah berhasil mengadaptasikan ikan dari
habitatnya di alam. Domestikasi ini juga telah mampu menghasilkan kemampuan
reproduksi berupa pemijahan alami 2 pasang induk dan berhasil menghasilkan
larva hingga pemeliharaan benih.
DOMESTICATION OF FRESHWATER PUFFER FISH (Tetraodon palembangensis)

Komentar
Posting Komentar