MENGENAL REPRODUKSI IKAN BUNTAL AIR TAWAR (Tetraodon palembangensis)

MENGENAL REPRODUKSI IKAN BUNTAL AIR TAWAR 
(Tetraodon palembangensis)

Nina Meilisza & I Wayan Subamia
Peneliti Balai Riset Budidaya Ikan Hias
Kementerian Kelautan dan Perikanan


 Mengenal Ikan Buntal Air Tawar

            Ikan Buntal air tawar (Tetraodon palembangensis) adalah salah satu spesies ikan air tawar yang unik.  Keunikan ikan ini terletak pada bentuk tubuhnya yang bulat dan kemampuannya mengembang ketika menghadapi stress atau gangguan dari luar.  Lingkungan tempat hidup ikan buntal air tawar terdapat di daerah demersal air tawar di danau dan sungai yang beriklim tropis dengan daerah distribusi di sekitar Asia yaitu di Indonesia, Laos, Thailand, dan Malaysia. Di Indonesia ikan ini dapat ditemukan pada perairan umum di Palembang.  

            Di dunia perikanan, ikan buntal air tawar memiliki nilai ekonomi tinggi dan harganya bersaing dengan spesies air tawar lainnya.  Ikan ini mudah dipelihara karena mempunyai  tingkat kemampuan hidup yang tinggi, memiliki populasi yang rendah (sedikit), dengan masa reproduksi kembali kurang dari 15 bulan.   Ukuran maksimal ikan ini adalah 18.0 - 20.0 cm ( 7.1 - 7.9 inchi), dan tidak berbahaya.  Pada masyarakat lokal tempat ikan ini hidup, buntal air tawar adalah jenis ikan konsumsi, namun dalam proses pengolahannya harus berhati-hati karena dapat mengakibatkan keracunan, sehingga bagian kulit dan organ dalam harus dibuang sebelum diproses.

 

Pemijahan

            Untuk keberhasilan pemijahan, perlu dilakukan persiapan-persiapan yang dilakukan mulai dari persiapan media dan wadah, pemeliharaan induk, pakan dan pemberian pakan, proses reproduksi hingga pemeliharaan benih.

Pemeliharaan Induk

            Ikan buntal air tawar yang akan menjadi calon induk, umumnya memiliki bobot berkisar 150 – 200 g/individu. Calon induk ini dapat di tempatkan berpasangan pada akuarium bervolume sekitar 20 liter atau lebih.  Di dalam akuarium ditempatkan substrat berupa batu pipih yang bertujuan sebagai tempat peletakkan telur.  Selama pemeliharaan, pembersihan air dilakukan setiap hari melalui penyiponan dan sedikit ganti air.

Pakan dan Pemberian Pakan

            Ikan buntal air tawar dapat diberi pakan berupa cacing tanah, cumi dan ikan teri. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali pada pagi dan sore.

Reproduksi

            Calon induk diletakkan pada akuarium secara berpasangan agar dapat melakukan pemijahan. Pada akuarium ditempatkan substrat berupa batu pipih yang bertujuan untuk tempat peletakkan telur.

Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

            Telur yang dihasilkan dari proses pemijahan, dipindahkan dari substrat dan ditempatkan pada akuarium. Persiapan wadah dilakukan dengan menyiapkan akuarium berukuran 20 x 40 cm dengan ketinggian air 10 – 15 cm. Air yang disiapkan terlebih dahulu ditambahkan dengan garam sebanyak 2 ppt dan diberi MB (Methylen Blue).  Garam digunakan dengan tujuan mempermudah proses lisis cangkang telur, sedankan MB digunakan untuk mencegah infeksi jamur.  Pengamatan telur dilakukan dari umur 0 jam hingga 24 jam secara terus menerus, dan berlanjut sampai usia 7 hari.

Pemeliharaan benih

            Benih yang dihasilkan setelah pemeliharaan larva selama 15 hari ditempatkan pada wadah akuarium berukuran 60x70x50 cm dengan kepadatan 10 ekor/liter. Pada hari ke 15 hingga 30 ikan diberi Culex sp. Selanjutnya ikan dapat diberi pakan berupa cacing tanah dan ikan teri yang dicacah sesuai bukaan mulutnya.   

HASIL PENELITIAN

            Domestikasi buntal air tawar (Tetraodon palembangensis) telah menghasilkan kemampuan adaptasi dan reproduksi.  Kemampuan adaptasi terlihat dari penyesuaian ikan terhadap lingkungan barunya. Lingkungan yang dimaksud adalah media hidup pada air yang ditempatkan dalam akuarium. Dibandingkan dengan habitat aslinya di alam yaitu sungai dan danau, maka penempatan ikan pada akuarium akan merubah perilaku dan kebiasaannya.

            Calon induk ikan buntal air tawar mampu beradaptasi dengan makanan alami berupa cacing tanah, ikan teri, dan cumi. Perilaku makannya agresif bila lapar, namun kuantitasnya tidak banyak. Ikan ini cenderung hidup di dasar akuarium dan tidak menyukai makanan yang berada di atas permukaan air. Jenis makanan yang disukai oleh ikan ini adalah yang cenderung bergerak dan mudah dideteksi dengan indera penciuman. Berikut ini adalah hasil analisa proksimat makanan alami berupa ikan teri, cumi, dan cacing tanah.

Tabel 1. Hasil analisa proksimat makanan alami

Jenis pakan

Kandungan gizi (%)

Protein

Lemak

BETN

Ikan Teri

72,8

4,6

0

Cumi-cumi

82,2

10

0

Cacing tanah

60,9

10,2

2

              Keterangan: dalam bobot kering

            Kandungan gizi yang terkandung dalam makanan alami di atas menunjukkan bahwa ketiga makanan alami tersebut memiliki kandungan protein tinggi yang baik untuk pertumbuhan maupun perkembangan gonad. Tingkat kematangan gonad calon induk ikan buntal air tawar dapat terlihat melalui pengamatan morfologi berdasarkan bentuk perut ikan yang membesar. Hasil pengamatan ini dijadikan acuan untuk membedakan jenis kelamin ikan. 

            Hasil pengamatan kematangan gonad selanjutnya menjadi dasar kemungkinan peluang pemijahan, sehingga perlu dilakukan persiapan media pemijahan dan menempatkan ikan secara berpasangan.  Pemijahan pada ikan buntal air tawar terjadi secara alamiah, didahului dengan pelepasan telur oleh betina yang meletakkan telurnya pada substrat. Selanjutnya, induk jantan mengusir betina dari atas substrat untuk membuahi telur yang ada. Setelah proses pembuahan terjadi, induk jantan tetap berada di atas substrat untuk menjaga telur sedangkan betina menjauh dari substrat. Selama jantan berada di atas substrat, pengamatan harus terus dilakukan karena stress dan gangguan dari luar dapat mengakibatkan induk jantan memakan telurnya. Untuk menghindari hal tersebut, dilakukan pemindahan telur pada akuarium lain.

            Pemijahan telah berhasil dilakukan oleh 2 pasang ikan yang ditempatkan pada akuarium yang berbeda..Pemijahan yang dilakukan oleh buntal air tawar  terjadi parsial.  Dalam 1 periode, sepasang ikan dapat melakukan 4 kali proses pemijahan dengan selang waktu memijah berkisar 14-18 hari. Jumlah telur (fekunditas) yang dihasilkan lebih dari 1000-1900 butir. Derajat pembuahan tertinggi sebesar 96% dan derajat penetasan tertinggi sebesar  78,6%. Bentuk telur buntal air tawar pipih pada bagian bawah dan cembung di bagian atas, dengan warna bening transparan.  Pada telur juga terlihat adanya lapisan minyak, dan umum terjadi pada telur yang berada pada substrat.

            Kuning telur larva mulai terlihat habis pada usia 3 hari dan dapat hidup dengan kuning telur hingga hari ke 6, selanjutnya larva berkembang secara definitif hingga sempurna seperti dewasa.  Keunikan perilaku buntal air tawar sudah dapat terjadi pada usia 7 hari. Tubuh larva sudah dapat mengembang  jika terganggu atau mendapat tekanan dari lingkungan.

            Pakan diberikan pada larva berusia 3 hari hingga hari ke 6 berupa pakan alami yaitu Moina sp yang telah disaring, hari ke 7 hingga hari 14 dapat diberikan Moina sp tanpa disaring. Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum.  Pembersihan air dilakukan setiap hari melalui penyiponan dan dilakukan pergantian air sesuai dengan tinggi air semula.

 

 

KESIMPULAN

           

            Domestikasi buntal air tawar (Tetraodon palembangensis) yang dilakukan oleh Loka Riset Budidaya Air Tawar telah berhasil mengadaptasikan ikan dari habitatnya di alam. Domestikasi ini juga telah mampu menghasilkan kemampuan reproduksi berupa pemijahan alami 2 pasang induk dan berhasil menghasilkan larva hingga pemeliharaan benih.   

 

DOMESTICATION OF FRESHWATER PUFFER FISH (Tetraodon palembangensis)


The Research Institute for Freshwater Ornamental Fish Culture has been conducting domestication research since 2004 on adult freshwater puffer fish or buntal broodstock in which the fish were reared in aquaria and fed with small feed fish teri (anchovy) and earthworm (Lumbricus sp.). The domestication of freshwater puffer fish or buntal has resulted in successful environmental adaptation and reproductive ability of the fish and further rearing of its fry. The adaptive ability was indicated by its high survival rate, good growth and development, and the reproductive success in spawning, egg production, hatching as well as growing of the larvae to fry stages. The mature gonad stage of the fish was reached at an average body weight of 150 g with a reproductive period of 5 months. The spawning occurred naturally and the eggs were gradually released at interval periods of 14—18 days with egg production rates of 1,000—1,900 eggs per spawning. The highest egg fertilization rate was 96%, with the highest egg hatching rate of 78.6%. Hatching process took place on the 6th to 13th days after spawning process. The surviving larvae began feeding filtered natural foods Moina sp. on the 3rd day up to the 6th day, whereas unfiltered Moina sp. was given from the 7th to 14th days. The fish were fed the live feed Culex sp. from the 15th to 30th days. In the following period the fish was fed earthworm and small feed fish teri (anchovy).


Artikel dapat diunduh pada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemanfaatan Tepung Daun Turi dalam Pakan untuk Kualitas Warna dan Pertumbuhan Ikan Rainbow Kurumoi

GAMBARAN PROFIL ASAM AMINO DALAM FORMULASI PAKAN IKAN PADA BERBAGAI RASIO TEPUNG MAGGOT DAN TEPUNG CACING TANAH

JENIS PAKAN ALAMI TERBAIK UNTUK BENIH IKAN BUNTAL AIR TAWAR